Palangka Raya/adminmediawkp - Mahasiswa Program Studi Manajemen Semester 6, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya, Christof...
Palangka Raya/adminmediawkp - Mahasiswa Program Studi Manajemen Semester 6, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya, Christofer Eka A. Narang, menyoroti fenomena inflasi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang dinilai tidak dibarengi penguatan kapasitas softskill mahasiswa. Sorotan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya tren capaian akademik tinggi di sejumlah perguruan tinggi, namun belum sepenuhnya selaras kebutuhan dunia kerja.
Christofer Eka A. Narang, yang juga merupakan Peraih 1st Management Finance Studies pada Management of Analysis Finance Community di Rusia tahun 2026, menilai fokus berlebihan pada pencapaian akademis berpotensi menciptakan ketimpangan kompetensi. Menurutnya, dunia profesional menuntut keseimbangan antara kecakapan intelektual dan keterampilan interpersonal.
Ia menegaskan bahwa IPK tinggi sering dijadikan indikator utama keberhasilan studi, sementara aspek seperti komunikasi, kepemimpinan, kemampuan adaptasi, manajemen waktu, serta etika profesional belum memperoleh perhatian proporsional.
“Akademik penting, tetapi perusahaan dan instansi publik memprioritaskan kemampuan kolaborasi, problem solving, serta integritas. Tanpa softskill yang matang, lulusan berisiko kesulitan beradaptasi di lingkungan kerja,” ujar Christofer Eka A. Narang saat ditemui di Palangka Raya.
Pandangan tersebut didasarkan pada pengalaman akademik dan praktik lapangan yang ia jalani. Pada 2025, ia mengikuti Program Impactful Independent Internship (I3) di Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya serta Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas. Pengalaman tersebut memberinya perspektif langsung terkait dinamika birokrasi dan kebutuhan kompetensi nonteknis di lapangan.
Selama menjalani program magang, ia mengamati bahwa efektivitas kerja tim sangat dipengaruhi kemampuan komunikasi dan koordinasi. Penguasaan teori manajemen keuangan atau administrasi saja tidak cukup apabila tidak diimbangi kemampuan menyampaikan gagasan secara sistematis serta membangun relasi profesional.
Menurutnya, fenomena inflasi IPK dapat muncul akibat standar penilaian yang cenderung longgar atau orientasi pembelajaran yang terfokus pada capaian angka semata. Ia mendorong perguruan tinggi memperkuat kurikulum berbasis proyek, studi kasus, serta kolaborasi lintas disiplin guna membentuk karakter adaptif dan inovatif.
Ia juga menilai program magang dan pertukaran pelajar internasional memiliki peran strategis dalam membentuk ketahanan mental serta kompetensi global mahasiswa. Pengalaman mengikuti forum akademik di Rusia pada 2026, katanya, membuka wawasan mengenai standar analisis keuangan dan tata kelola organisasi di tingkat internasional.
“Kompetisi akademik di luar negeri menekankan ketajaman analisis sekaligus kemampuan presentasi dan argumentasi. Standar tersebut memperlihatkan bahwa kecakapan komunikasi menjadi penentu keberhasilan,” ungkap Christofer Eka A. Narang.
Ia mengusulkan sinergi lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor swasta guna merancang pelatihan softskill terstruktur. Workshop kepemimpinan, simulasi negosiasi, pelatihan public speaking, serta penguatan etika profesional dinilai krusial dalam mempersiapkan lulusan yang kompetitif.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tantangan pasar kerja semakin kompleks akibat transformasi digital dan persaingan global. Lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis serta kecerdasan emosional tinggi. Tanpa integrasi kedua aspek tersebut, keunggulan akademik berpotensi kehilangan relevansi praktis.
Ia berharap institusi pendidikan tinggi di Kalimantan Tengah, termasuk Universitas Palangka Raya, terus berinovasi dalam merumuskan kebijakan akademik yang tidak semata berorientasi pada capaian angka, melainkan juga kualitas karakter dan profesionalisme mahasiswa.
Fenomena inflasi IPK, menurutnya, perlu disikapi secara konstruktif melalui evaluasi sistem pembelajaran dan mekanisme penilaian. Reformulasi metode evaluasi berbasis kompetensi komprehensif dapat menjadi solusi guna menghasilkan lulusan yang unggul secara akademis sekaligus matang secara personal.
Sorotan tersebut diharapkan memicu diskursus lebih luas mengenai arah pendidikan tinggi di daerah. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak cukup bertumpu pada indikator kuantitatif semata, melainkan integrasi keilmuan, karakter, serta kecakapan sosial yang berkelanjutan.
Palangka Raya, 18 Februari 2026/adminmediawkp





