Palangka Raya/adminmediawkp - Dinamika akademik di lingkungan perguruan tinggi kembali mengalami pergeseran signifikan pada tahun 2026. Semb...
Palangka Raya/adminmediawkp - Dinamika akademik di lingkungan perguruan tinggi kembali mengalami pergeseran signifikan pada tahun 2026. Sembilan mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (FEB UPR) secara kritis menyoroti kecenderungan meningkatnya preferensi mahasiswa memilih program magang sebagai acuan tugas akhir dibandingkan Kuliah Kerja Nyata (KKN), terutama jika dibandingkan tren tahun 2025.
Kesembilan mahasiswa tersebut yakni Aditio Saputra Darmawan, Christofer Eka Aditama Susetco Renaldus Margadinata Narang, Claodio Caniggia, Deprianson Saputra, Ferizal Gozali, Pebri Rahman, Terliansyah, Yettry, dan Yudi Aprionsa. Mereka menilai bahwa perubahan orientasi ini tidak sekadar fenomena administratif, melainkan mencerminkan transformasi paradigma mahasiswa dalam memaknai relevansi antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.
Dalam pernyataan bersama, kelompok mahasiswa tersebut menegaskan bahwa pengalaman magang memberikan eksposur langsung terhadap realitas industri dan birokrasi, sehingga dinilai lebih aplikatif dalam membentuk kompetensi profesional. Kondisi ini berimplikasi pada meningkatnya minat mahasiswa untuk menjadikan magang sebagai basis penyusunan tugas akhir berbasis praktik.
Sebanyak delapan dari sembilan mahasiswa tersebut telah melaksanakan Program Magang Mandiri Berdampak di berbagai instansi strategis. Aditio Saputra Darmawan, Deprianson Saputra, Terliansyah, dan Yudi Aprionsa menjalankan program magang di Kantor Kelurahan Bukit Tunggal Palangka Raya di bawah kepemimpinan Subhan Noor, S.Hut., Lurah Bukit Tunggal Palangka Raya. Program tersebut memperoleh apresiasi positif dari Pemerintah Kota Palangka Raya atas kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pelayanan administrasi publik.
Sementara itu, Christofer Eka Aditama Susetco Renaldus Margadinata Narang melaksanakan magang di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas di bawah arahan Teras, S.T., M.T., Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas serta H. Jumetriadi, S.H., Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas. Program tersebut tidak hanya memperoleh pengakuan dari Pemerintah Kabupaten Kapuas dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, tetapi juga menghasilkan luaran akademik berupa publikasi ilmiah pada jurnal pengabdian terindeks Sinta 4 di bidang sistem pengelolaan keuangan serta pencapaian Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Di sisi lain, Claodio Caniggia, Pebri Rahman, dan Yettry melaksanakan program magang di Kantor Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Pulang Pisau di bawah kepemimpinan Ferdinand Yacobvella, S.T., M.P.W.K., Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Pulang Pisau. Program tersebut juga memperoleh respon positif serta apresiasi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pulang Pisau dalam hal ini melalui Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabuapten Kapuas terutama dalam kontribusi mahasiswa terhadap pengelolaan administrasi keuangan daerah.
Ferizal Gozali sebagai mahasiswa pendatang baru turut memberikan perspektif berbeda dengan menekankan bahwa tren ini berpotensi menciptakan kesenjangan pengalaman sosial mahasiswa. Ia menilai bahwa KKN tetap memiliki nilai strategis dalam membangun sensitivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat, aspek yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh magang berbasis institusi formal.
Kesembilan mahasiswa tersebut sepakat bahwa pergeseran preferensi ini dipengaruhi oleh meningkatnya tuntutan dunia kerja terhadap lulusan yang siap pakai. Magang dinilai mampu menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik profesional, sehingga memberikan nilai tambah dalam kompetisi pasar kerja. Namun demikian, mereka juga mengingatkan bahwa dominasi magang tidak boleh mengabaikan esensi pengabdian masyarakat yang menjadi karakteristik utama pendidikan tinggi di Indonesia.
Analisis mereka menunjukkan bahwa pada tahun 2026 terjadi peningkatan signifikan jumlah mahasiswa yang memilih jalur magang sebagai tugas akhir dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini menuntut evaluasi kebijakan akademik, khususnya dalam merancang kurikulum yang mampu mengintegrasikan keunggulan magang dan nilai-nilai KKN secara seimbang.
Lebih lanjut, mereka merekomendasikan penguatan model hybrid antara magang dan KKN sebagai solusi inovatif. Model ini dinilai mampu mengakomodasi kebutuhan kompetensi profesional sekaligus mempertahankan dimensi sosial kemasyarakatan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi.
Fenomena ini menegaskan bahwa mahasiswa FEB UPR tidak hanya menjadi objek kebijakan pendidikan, tetapi juga subjek aktif yang mampu memberikan kritik konstruktif terhadap arah pengembangan sistem akademik. Perspektif kritis mereka menjadi indikator penting dalam memahami dinamika pendidikan tinggi di era kontemporer.
Palangka Raya, 17 Maret 2026/adminmediawkp





