Drs. Kardinal Tarung PALANGKA RAYA - Batang Garing sebagai simbol budaya Dayak kembali mendapat sorotan publik terutama di tengah semakin ku...
![]() |
| Drs. Kardinal Tarung |
PALANGKA RAYA - Batang Garing sebagai simbol budaya Dayak kembali mendapat sorotan publik terutama di tengah semakin kuatnya upaya pelestarian tradisi lokal di Kalimantan Tengah. Simbol ini memiliki kedudukan istimewa sebagai lambang kehidupan, identitas kepercayaan, sekaligus pedoman moral yang diwariskan sejak nenek moyang masyarakat Dayak khususnya Dayak Ngaju. Bentuknya yang menyerupai mata tombak menjulang ke langit mencerminkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta sebagaimana diyakini dalam ajaran Kaharingan. Di tengah modernisasi yang melaju cepat dan tantangan globalisasi yang menggerus nilai-nilai lokal, Batang Garing tetap hadir sebagai simbol eksistensi budaya, identitas spiritual, dan orientasi hidup suku Dayak yang terus dipertahankan hingga kini.
Menurut Drs. Kardinal Tarung, Damang Kecamatan Jekan Raya, Batang Garing bukan sekadar simbol yang dicetak di kain, ukiran, atau ornamen bangunan, tetapi bagian dari mitologi penting yang membentuk pandangan hidup suku Dayak. Ia menyampaikan bahwa ajaran filosofis Batang Garing telah menjadi panduan etika dan nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Penghormatan terhadap leluhur, keseimbangan hidup, hubungan manusia dengan alam, serta kepatuhan pada ketentuan adat merupakan bagian dari warisan ajaran yang lahir dari simbol tersebut. Pandangan ini kemudian menjadi pijakan bagi masyarakat Dayak untuk menjaga identitas budaya sekaligus menempatkan tradisi sebagai kompas moral dalam kehidupan modern.
Meskipun pohon fisik Batang Garing tidak pernah ditemukan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, nilai dan kepercayaannya hidup dalam ruang spiritual masyarakat Dayak. Simbol ini hadir sebagai warisan imaterial yang tetap terjaga melalui ritual adat, pengajaran tradisional, cerita turun-temurun, serta karya budaya masyarakat Dayak. Dalam berbagai sumber budaya Kalimantan Tengah disebutkan bahwa Batang Garing dipercaya muncul bersamaan dengan terciptanya manusia pertama leluhur Dayak Ngaju. Pandangan ini menjadikan Batang Garing sebagai lambang penciptaan, kehidupan, dan perjalanan manusia dari generasi ke generasi.
Struktur Batang Garing memiliki elemen yang masing-masing sarat makna filosofis. Bagian atas berbentuk mata tombak melambangkan Ranying Hatala Langit, Tuhan Yang Maha Tinggi dalam kepercayaan Kaharingan, yang menjadi sumber segala kehidupan. Mata tombak ini mengarah ke langit sebagai simbol orientasi spiritual masyarakat Dayak bahwa kehidupan manusia selalu berawal, bergantung, dan kembali kepada Sang Pencipta. Di bagian batang, terdapat dahan yang berisi tiga buah sebagai representasi tiga kelompok manusia menurut mitologi Dayak yaitu keturunan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Bunu. Ketiganya diyakini sebagai leluhur asal kehidupan manusia yang kemudian menurunkan generasi-generasi Dayak.
Daun Batang Garing digambarkan menyerupai ekor burung Enggang atau Tingang, burung yang menjadi identitas kuat suku Dayak. Burung ini tidak hanya hadir sebagai ikon daerah, tetapi juga simbol keyakinan bahwa kehidupan berasal dari dunia atas. Hal ini menunjukkan kedekatan masyarakat Dayak dengan alam serta penghormatan terhadap makhluk hidup yang diyakini memiliki kedudukan spiritual dalam kepercayaan mereka. Sementara itu, bagian bawah Batang Garing digambarkan terdiri dari guci berisi air suci dan dahan berlekuk yang melambangkan dunia bawah atau Jata. Dalam mitologi Dayak, dunia ini disebut sebagai Pulau Batu Nindan Tarung, tempat manusia pertama kali berada sebelum diturunkan ke bumi. Elemen tersebut melengkapi filosofi tiga alam yaitu atas, tengah, dan bawah yang menjadi dasar keseimbangan kehidupan masyarakat Dayak.
Kini, Batang Garing telah berkembang sebagai simbol budaya Kalimantan Tengah secara luas dan tidak hanya identik dengan Dayak Ngaju. Motifnya banyak ditemukan dalam batik Benang Bintik, ukiran kayu, perhiasan, kerajinan tangan, ornamen bangunan publik, bahkan digunakan sebagai simbol resmi dalam kegiatan adat, keagamaan, dan kebudayaan. Keberadaannya menjadi bukti bahwa identitas budaya Dayak berhasil bertahan sekaligus memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia yang beragam.
Senin, 24 November 2025/adminmediawkp





